jump to navigation

Mari Perbesar Zona Nyaman October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Manajemen.
add a comment

Dalam perjalanan di shuttle bus menuju bandara Soekarno Hatta Jakarta, saya berkenalan dengan seorang owner perusahaan penyedia layanan IT untuk Base Transceiver Station (BTS) -tower penguat sinyal telepon seluler, pen-. Pak Djarot, begitu ia dipanggil, penampilannya sederhana, sama sekali tidak mengesankan dirinya seorang pengusaha sukses di bidang IT. Kami pun terlibat pembicaraan hangat.

“Ngomong-ngomong apa sih rahasia sukses bapak?” Tanya saya menggali. “Mas, saya membuat keputusan besar dalam hidup dan pekerjaan saya,” jawabnya antusias. “Tekad dan pengalaman saya menjadi modal untuk mendirikan perusahaan sendiri,” kenang lulusan Universitas Brawijaya itu. Di awal sang istri menentang keputusannya. “Ya, karena istri saya sudah merasa nyaman dengan gaji besar yang saya terima,” ungkap pria kelahiran Malang Jawa Timur itu. Singkat cerita, kini perusahaan yang dipimpinnya menjadi mitra beberapa operator seluler besar di negeri ini.

Ya, Pak Djarot adalah potret sukses sebagian orang-orang penting yang melakukan hal penting dalam hidupnya. Pak Djarot telah melakukan terobosan besar. Ia telah berhasil keluar dari zona nyamannya dan membuat zona nyaman baru yang jauh lebih besar. Laksana karet gelang yang bisa diperbesar lingkarannya, ia telah berhasil memperbesar lingkaran karet gelang itu.

Nah, bicara tentang zona nyaman (comfortable zone), tahukah Anda bahwa masing-masing kita memilikinya? Ia tidak terlihat oleh mata tapi kitalah yang membatasinya.

Contohnya begini, jika saat ini posisi kita sebagai sekretaris dan kita nyaman dengan pekerjaan teknis yang datang dari atasan, maka itulah zona nyaman kita. Saat kita berupaya kreatif dan inovatif meningkatkan kualitas kesekretarisan kita, bahkan kita mampu menaklukkan tantangan yang sebelumnya kita anggap mustahil untuk dikerjakan, maka kita sedang memperbesar zona nyaman itu.

Tentu ada gejolak yang muncul saat pertama melakukan hal-hal tersebut, namun lama kelamaan kita menjadi terbiasa dan saat itulah zona nyaman kita menjadi lebih besar. Zona nyaman yang membesar menandakan kapasitas diri yang semakin besar.

Rossi Gunakan Bridgestone 2008 October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Otomotif.
add a comment

Dua tahun berturut-turut Valentino Rossi kehilangan gelar juara dunia motogp. Setelah direbut oleh Nicky Hayden di tahun 2006, kini giliran Casey Stoner yang mencuri juara dunia motogp bahkan dengan selisih point yang jauh.

rossi-bridgestone.jpg

Musim 2007 ini berulangkali Rossi mengeluhkan performa ban Michelin. Pasalnya Bridgestone yang belum pernah menang selama 9 tahun terakhir menunjukkan performa yang luar biasa di hampir semua lintasan motogp.

Nah, oleh karena itu mulai tahun 2008 nanti The Doctor akan menjajal ban Bridgestone sebagai kaki tunggangannya. Hal itu diyakinkannya saat Rossi tampil di sirkuit Sepang Malaysia 21 Oktober lalu. “Aku meminta ban Bridgestone sebagaimana yang digunakan Stoner musim ini,” tutur Rossi.

Namun demikian juara dunia lima kali itu akan menjadi satu-satunya pembalap Yamaha yang menggunakan Bridgestone musim depan. Hal itu dikarenakan keterbatasan Bridgestone untuk mensuplai ban pada motogp. Sedangkan Lorenzo, Toseland, dan Edwards akan menggunakan Michelin.

So, kita akan lihat apakah mengganti ban bisa membuat Rossi merebut kembali tahta juara dunianya?

Distribusi Zakatkah? October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Zakat.
add a comment

Ramadhan lalu kita melihat ada orang kaya di Jakarta, Semarang, dan Surabaya yang membagikan zakat di depan rumahnya. Tak ayal ribuan orang miskin maupun yang mengaku  miskin berduyun-duyun antri.

Ternyata pembagian seperti itu menimbulkan kericuhan antar orang miskin.

Nah, bagaimana pendapat anda tentang distribusi zakat semacam itu?

Karena Mereka Bangun di Waktu Malam October 23, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Siroh.
1 comment so far

Bizantium gempar! Kekaisaran Romawi mendapat pelajaran yang amat menyakitkan. Ada berita bahwa pasukan Romawi dikalahkan oleh kaum muslimin di Anthokia. Demi mendengar berita tersebut Heraklius sang raja geram dan terlihat amat marah. Sambil meremas-remaskan jari jemarinya ia berjalan mondar mandir mengelilingi istana megahnya..

Wajahnya mengernyit hingga tulang pipinya terlihat lebih menonjol. Ia tidak habis pikir dengan kejadian yang baru saja menimpa pasukannya. Bagaimana mungkin pasukannya dikalahkan musuh, padahal jumlah mereka lebih kecil. Bagaimana mungkin bala tentaranya mundur padahal strateginya dibuat dengan perhitungan super cermat. Apa gerangan yang menyebabkan kelemahan anak buahnya di lapangan? Diambilnya tongkat kerajaan dan ditunjukkan kepada para hulubalang sebagai isyarat untuk memanggil pasukannya.

Beberapa waktu kemudian sang komandan lapangan dan sebagian pasukannya masuk ke istana. Dengan wajah merah padam sang raja membentak pasukannya, “Celakalah kalian, kalian kabarkan tentang pasukan yang memerangimu, bukankah mereka juga manusia sepertimu?”. “Benar Tuan”, jawab mereka dengan kepala tertunduk. Heraklius semakin terheran-heran. Sambil menunjuk salah seorang dari mereka ia bertanya lagi, “Apakah kalian yang lebih banyak atau mereka?”. “Maaf Tuan, bahkan jumlah pasukan kita selalu berlipat ganda dari mereka di setiap negeri yang kita duduki”, jawabnya dengan sedikit takut dan minder.

“Lalu apa yang menyebabkan kalian kalah?”, tanyanya sambil memainkan tongkat. Kemudian berdirilah seorang tua dari mereka yang tampak lusuh, pakaiannya pun compang camping kemudian berkata, “Karena mereka bangun pada waktu malam dan puasa di siang hari”. Dengan mantap orang tua tadi melanjutkan, “mereka menepati janji yang telah dibuat, memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, saling melayani sesamanya”.

“Sebaliknya kita”, lanjutnya sambil menunjuk kawan-kawannya, “Kita meminum khamar, berzina, memakan yang haram”. Terdengar suaranya semakin melengking dan hampir tak terdengar, jantungnya berdegup semakin kencang. “Kita melanggar janji, merampok hak orang lain, menzalimi orang lain, menyuruh berbuat jahat dan membuat kerusakan di muka bumi”, lanjutnya. “Itulah bedanya kita dengan mereka”, tutupnya sambil kembali ke tempatnya semula. Maka Heraklius berkata,”Engkau benar!”

Kemudian sang raja bertanya kepada seorang tentaranya yang pernah ditawan oleh kaum muslimin, “Jelaskan kepadaku tentang mereka”. Dengan penuh penjiwaan sang tentara tadi menjawab, “Tuan, Saya akan gambarkan kepada Tuan seakan-akan Tuan melihat mereka”. “Mereka adalah penunggang kuda liar di waktu siang, pendeta di waktu malam”, lanjutnya dengan wajah berbinar-binar.

Kemudian ia melajutkan, “Mereka tidak akan memakan makanan di daerah kekuasaannya melainkan dengan membayar sesuai harganya dan tidak memasuki suatu daerah kecuali dengan kedamaian”. “Mereka tidak menyerang sebelum diserang”, lanjutnya menutup pembicaraan. Mendengar perkataan tentaranya itu Heraklius sang raja berkata, “Kalau yang kau katakan itu benar, niscaya mereka akan menduduki tempat berdirinya kedua kaki ini.”

Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wannihayah

Ngobrol October 23, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Remaja.
add a comment

ngobrol.jpgDalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary istilah talk memiliki beberapa arti di antaranya say things, speak to give information, have the power of speech, discuss, gossip, give secret information atau conversation, gossip or rumour, informal speech, dan formal discussion. Sedangkan dalam kamus umum bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta istilah ngobrol berasal dari kata obrol yang artinya bercakap-cakap yang bukan-bukan atau yang kurang faedahnya (Hal. 683).

Aktivitas ini merupakan upaya seseorang untuk mengekspresikan isi hatinya atau mengungkapkan keinginan-keinginan yang terlintas dalam fikirannya kepada orang lain yang dipercayainya. Lihat saja, dua orang pemuda lajang yang terlihat asyik berbincang-bincang di dalam sebuah kamar sambil sesekali tertawa cekikikan, sesaat kemudian suasana hening kembali. Apa yang sedang mereka obrolkan? Teman akrab saya mengatakan, “Wah, mereka pasti sedang ngobrolkan masa depan…..”. Dan saya yakin hal in pun terjadi pada kaum hawa, iya kan?

Sebenarnya wajar bila seseorang melakukan aktivitas tersebut, barangkali sebagai bentuk sosialisasi dirinya kepada lingkungan sekitarnya, bukankah manusia adalah makhluk sosial? Tetapi kini, tampaknya ngobrol bukan sekadar aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sebagai makhluk sosial saja, bahkan hal ini telah menjadi budaya masyarakat kita yang memang senang bercakap-cakap. Kalau saya tanyakan kepadamu, berapa kali kamu ngobrol dalam sehari? Tiga kali? Lima kali? Tujuh kali? Atau tidak tahu sama sekali karena tidak terhitung jumlahnya? Ini salah satu indikasi betapa ngobrol benar-benar telah menjadi budaya dan kebutuhan kita.

Begitu butuhnya masyarakat untuk ngobrol sehingga bentuknya pun sangat beragam. Kita sering mendengar acara talk show yaitu ngobrol yang di’show’kan. Tidak ada yang dilakukan dalam acara tersebut selain ngobrol dengan mendatangkan seorang pakar. Ada juga yang mengatakan bahwa ngobrol merupakan sarana kita untuk gaul, barangkali alasan ini yang digunakan oleh teman-teman FOKAP ketika mengadakan acara Obrolan Gaul Untuk Unggul di sebuah SMU ternama di Surabaya.

Kita tahu bahwa aktivitas apapun yang kita kerjakan akan mengakibatkan berbagai efek yang mengikuti aktivitas tersebut. Efek yang saya maksud di sini ialah hal-hal yang biasa menyertai saat kita melakukan aktivitas itu. Efek ini akan menentukan seberapa baik kualitas kegiatan yang dilakukan. Orang yang sedang ngobrol tentunya akan dengan spontan merasakan efek dari ngobrolnya itu. Jika obyek obrolannya hal-hal yang lucu serta merta dia akan tertawa. Tetapi jika yang diobrolkannya sesuatu yang mengharukan mungkin dia akan menangis. Begitu seterusnya efek-efek tersebut akan turut menyertai aktivitas yang dilakukannya.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah orang kedua atau kawan ngobrol yang diajak bicara. Di awal sudah saya katakan bahwa ngobrol merupakan bentuk pengungkapan isi hati kepada orang yang dipercayai. Orang yang diajak ngobrol bisa jadi merupakan orang yang special di mata kita. Seorang istri sangat senang ngobrol dengan suami yang dicintainya, sebagai bentuk keinginannya untuk selalu diperhatikan. Bahkan seakan-akan dia tidak ingin sedetikpun luput dari perhatian sang suami. Betul nggak ya?

Nah, kalau kamu rela ngobrol berjam-jam dengan orang yang khusus itu. Seluruh keluh kesah telah kamu sampaikan, semua keinginan telah kamu utarakan, dan seuntai masalah telah kamu kemukakan. Maka saya ingin bertanya, sudahkah kamu melakukannya di hadapan Zat Yang Maha Special? Ngobrol berjam-jam di mal, di pasar, di sekolah, di kampus, di rumah, bahkan di tengah keramaian tempat-tempat hiburan khusus mungkin lebih sering kita kerjakan daripada ngobrol dengan Zat Yang Maha Mendengar di kesunyian malam saat manusia terlelap dalam mimpi-mimpinya. Mungkin kita lebih sering tertawa ketika ngobrol dengan teman kita daripada menangis saat ngobrol bersama Zat Yang Maha Kuasa.

Kalau dari mulut kita keluar kata-kata: “Aku cinta Allah SWT”, sudahkan terbukti dengan seringnya kita ngobrol dengan-Nya sebagai bentuk keinginan kuat kita untuk selalu diperhatikan oleh-Nya? Perhatian dari Zat Yang Maha Special yang hanya dengan perhatian-Nya seluruh kebutuhan dan keinginan kita mudah saja dikabulkan-Nya. Kepuasan jiwa akan kita dapatkan, coba saja kalau nggak percaya.

Lalu bagaimana caranya ngobrol bersama Zat Yang Maha Bijaksana? Bagaimana caranya agar kecintaan kita kepada-Nya benar-benar terbukti? Bagaimana agar kita benar-benar mendapat perhatian khusus dari Allah SWT? Nah, Sekarang juga datangilah kawanmu yang senang tilawah Al Qur’an atau rekanmu yang banyak hafalan Al Qur’annya dan senang melakukan sholat malam lalu tanyakan, “Bagaimana caranya ngobrol dengan Allah SWT?”

Menangis Yang Tidak Cengeng October 23, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Bekal.
add a comment

Kondisi hati manusia tiada pernah stabil selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan merasakan kegembiraan dan ketika dilanda musibah tidak sedikit orang yang kemudian putus asa lalu berpaling dari kebenaran. Kemantapan jiwa seseorang berbanding lurus dengan kualitas keimanannya, semakin menipis keimanan dalam jiwanya maka semakin sering hatinya goncang, apabila keimanan dalam jiwanya begitu dalam maka hatinya akan lebih stabil dan mudah menghadapi berbagai kondisi yang dialaminya.

Ketika seseorang mengalami kesedihan yang mendalam maka bisa jadi dia akan menangis karenanya. Bagi sebagian orang menangis itu adalah hal yang hina, tanda kelemahan. Orang Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakn tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.

Berbagai anggapan di atas tentunya tidak sepenuhnya benar. Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya yang bernama Ibrahim, beliau menyatakan betapa sedih hatinya karena kematian anaknya itu.

Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat di belakang rasulullah saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat : “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis.

Umar bin Khoththob seorang sahabat yang dikenal paling tegas justru luluh hatinya ketika suatu ketika mendengar seseorang membaca Surat Ath Thur sampai pada ayat ke tujuh yang berbunyi : “sesungguhnya siksaan Robbmu pasti terjadi”, seketika itu pula beliau jatuh pingsan, ketika bangkit dan mengingat ayat itu beliau jatuh lagi. Dan bukankah beliau mendapatkan hidayah setelah mendengar ayat-ayat Allah? Lihatlah betapa rasulullah saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka.

Bukankah di antara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Menetesnya air mata dalam kesendirian akan sulit terjadi jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. Tidak sedikit bahkan mereka yang mengaku mukmin pun bermaksiat dikala sendiri di dalam kamarnya tanpa ada orang yang melihat. Seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdoa kepada Robbnya dikarenakan banyak dan beratnya tugas yang harus diembannya di dunia ini.

Di zaman ketika manusia lalai dalam kehidupan dunia, seorang mukmin senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran umatnya, kesedihannya yang mendalam dan ihtimamnya (perhatiannya) terhadap kondisi umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap kebutuhan umat.

Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Ketika kaum muslim banyak yang terbunuh, terusir dari negerinya akibat konspirasi kejam musuh-musuh Allah, maka mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon dengan sangat kepada Robb semesta alam seraya dia terus berjuang menegakkan dinullah (Islam).

Ketika rasulullah saw mengumumkan perang terhadap orang-orang kafir, para sahabat dengan kesungguhan hati menginfakkan hartanya untuk ikut berperang. Namun di antara mereka ada yang datang meminta ikut, kemudian rasulullah saw berkata kepada mereka : “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”. Lalu mereka kembali, menangis sedih lantaran mereka tidak memiliki harta yang akan mereka belanjakan untuk berperang. (QS At Taubah 92) Tidak mungkin hal itu terjadi pada jiwa seseorang yang di dalamnya ada sifat nifaq. Menangisnya mereka ketika tidak dapat pergi berperang telah menyebabkan turunnya ayat di atas, dan Allah mengampuni mereka karenanya. Tiada seorang pun di antara mereka yang cengeng, tiada seorang pun di antara mereka yang lemah keimanannya, justru karena dalamnya keimanan mereka menangis dikarenakan tidak memiliki harta.

Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata : “Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”. (QS Al Maidah: 83).

Ketika rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin untuk hijrah ke negeri Habsyah, beliau meminta Ja’far bin Abdul Mutholib untuk memimpin kaum muslimin. Beliau mengatakan bahwa di Habsyah ada raja nasrani yang bijaksana. Setibanya di kerajaan Habsyah, terjadi negosiasi antara kaum muslimin (diwakili oleh Ja’far bin Abdul Mutholib) dengan raja Habsyah perihal keinginan kaum muslimin untuk tinggal sementara di negeri Habsyah karena tekanan yang mereka alami di kampung halaman mereka (Mekkah). Walaupun hasutan terhadap raja begitu gencar untuk menolak kaum muslimin, namun raja yang bijaksana itu minta dibacakan apa yang dibawa oleh Muhammad. Kemudian Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22. Demi mendengar ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah mengakui kebenaran ayat itu. Dia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Allahu Akbar! Akhirnya kaum muslimin diperbolehkan tinggal di negeri Habsyah. Demikianlah kapan pun dan dimana pun kebenaran akan senantasa benar. Dan para perindu kebenaran akan merasakannya manakala ia datang.

Orang yang keras hatinya, sulit untuk menangis ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun. Ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk penghormatan Abdullah bin Ubay bin Salul (gembong munafik di zaman rasulullah saw) kepada rasulullah saw, sedikit pun tidak bergetar hatinya ketika Allah swt mengecam perihal keadaan orang-orang munafik di akhirat nanti. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’ : 145)

Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa dikarenakan dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. “Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah : 82)

Barangkali di antara kita tidak pernah menangis, maka menangislah di saat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo’a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada.

Karena Lemah Lembut Itu Indah October 23, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Keluarga.
2 comments

lemah-lembut.jpgSuatu hari Aisyah duduk di atas ontanya tapi ontanya sulit berjalan akhirnya Aisyah memukul mukul onta tersebut agar mau berjalan, melihat itu rasulullah bersabda: “Berlakulah dengan lembut wahai Aisyah, sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali bahwa sesuatu itu akan menjadi indah, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu kecuali sesuatu itu akan cacat” (HR Muslim).

Di lain waktu rasulullah juga bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Kasih dan Dia senang pada kelembutan. Dia memberi pada kelembutan yang tidak dia berikan pada kekasaran, dan apa yang tidak Dia berikan pada selainnya.” (HR. Muslim)

Teman, seringkali mungkin kita bersitegang dengan kawan sendiri ketika kita berdiskusi dan berdialog, atau ketika menegur kesalahan mereka sehingga seringkali pula sahabat kita itu sakit hati dan tersinggung, akibatnya bukan kebaikan yang kita dapat tapi malah ukhuwah yang retak.

Rasulullah mengatakan pentingnya lemah lembut ini dalam interaksi kita dan rasulullah mencontohkan sendiri dalam kehidupannya bagaimana ia bersikap lemah lembut terhadap sahabat terhadap sesama mukmin. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. 3 :159).

Kelemahlembutan ini pulalah jalan yang di tempuh oleh para rasul, bagaimana lemah lembutnya Ibrahim terhadap ayahandanya Azar sebagaimana dialog itu dikisahkan dalam Qur’an. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.

Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”. (QS. 19 : 42-48)

Atau cukuplah kisah Musa yang datang kepada Fir’aun manusia terburuk perangainya yang pernah lahir ke dunia. Allah pun menyuruh Musa untuk berkata lemah lembut kepada Fir’aun .. “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS 20 : 43-44). Dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya” (QS. 79: 18-19).

Nah, bukankah kita tak sebaik Musa ? dan kawan kita tak seburuk Fir’aun ? Lalu kenapa kita tak mau berlaku lemah lembut dalam menasehati mereka ???? “Sesungguhnya kelembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali bahwa sesuatu itu akan menjadi indah, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu kecuali sesuatu itu akan cacat” (HR. Muslim)

Eye Catching October 22, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Remaja.
add a comment

Istilah di atas barangkali masih asing di telinga. Namun sesungguhnya ia adalah sesuatu yang akrab dengan kehidupan kita. Begini contohnya. Saat kamu sedang asyik nonton sepak bola, dimana kesebelasan kesayanganmu berjibaku melawan rivalnya di final piala dunia, tiba-tiba listrik di rumahmu mati, prett! Tentu kamu kesal dong, karena kehilangan kesempatan menikmati indahnya polah kerumunan orang yang sedang berebut sebuah bola di lapangan hijau. Ya, saat itu mata kamu sulit pindah dari apa yang kamu saksikan. Itulah eye catching, obyek pandangan yang bikin mata pingin lihat terus dan enggan bergeser darinya karena tidak membosankan.

zai01.jpg     Sekarang gimana kalo obyeknya adalah manusia? Cowok or cewek yang membuat mata tak ingin berpaling darinya? Bagaimana menyikapinya? Bukankah Allah itu indah dan cinta keindahan?

Betul, tetapi hal tersebut sering disalahtafsirkan. Sebagian orang menyangkutpautkan keindahan itu (selalu) dari sudut pandang hawa nafsu lho. Ketika di hadapannya berdiri lawan jenis yang eye catching maka tak sedetikpun mata ‘menyia-nyiakannya’. Justru dia akan menyesal saat obyek tersebut hilang dari pandangan. “Mubadzir kalau nggak dilihat,” guraunya meyakinkan. Bahkan ketika obyeknya sudah jauh dari pandangan mata, hatinya masih tetap melihat (bayang-bayangnya). Masya Allah!

Dahsyatnya pengaruh eye catching ini membuat orang berlomba-lomba demi menyandang predikat tersebut di hadapan dunia yang fana. Fenomena ratu sejagat, putri Indonesia, Abang dan None Jakarte atau Cak dan Ning Suroboyo barangkali merupakan profil jelas yang menggambarkan hal tersebut. Stop… Stop! Aku nggak mau ngejelek-jelekin orang ah! Nggak bagus malah.

Sementara di sekitar kita, banyak orang yang memuji Fulan atau Fulanah karena tampilannya begitu memukau. Bukan karena bakat dan kecerdasannya tetapi lebih pada keelokan wajah dan bentuk fisiknya. ‘Magnet’ yang dimilikinya membuat orang susah tidur, tidak enak makan, bahkan menangis merindukannya saat perjumpaan tak kunjung tiba.

Nah, bagi kamu punya potensi eye catching, lebih bijak jika berhati-hati. Karena ada beribu rintangan, cobaan, ujian atau apalah namanya yang (sewaktu-waktu) bisa menggelincirkanmu pada kehinaan tuh. Padahal sesungguhnya dengan itu pun ada beribu peluang, keuntungan, dan pahala yang (setiap saat) bisa menjunjung kamu pada kemuliaan.

Jika potensi eye catching tersebut diberikan hanya kepada orang yang berhak. Seorang istri memberikannya dengan tulus kepada suami, atau suami ‘menginfakkannya’ kepada sang istri, maka ketenteramanlah yang akan diperolehnya. Tiada bosan dipandang mata, selalu menyejukkan hati ketika di sisinya, dan tentu saja pahala terus mengalir tiada ujungnya.

Sedangkan bagi yang belum punya pasangan, bersabarlah dengan sabar yang indah. Karena Allah SWT akan mengantarkan jodohnya sesuai kadar penjagaan seseorang terhadap (potensi eye catching) dirinya sendiri.

Jikapun Islam menghendaki seseorang untuk tampil di publik, maka ingatlah pesan Nabi Muhammad SAW ini, “Orang-orang yang terpilih (terbaik) di antara kalian adalah seseorang yang dapat mengingatkan kalian kepada Allah saat memandangnya, tutur katanya menambah ilmu agama, dan perbuatannya memberikan semangat kepada kalian untuk beramal demi akhirat.” (HR. Hakim, dari Ibnu Umar ra).

So, lebih baik menjadi sebenar-benar eye catching versi Rasulullah SAW deh..