jump to navigation

Mimpi Itu Menegurku Kembali October 30, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Bekal.
1 comment so far

Bekasi, 11 Syawal 1428 H

Tiba-tiba Abdullah bin Amr bin Ash datang kepada Rasulullah SAW dengan pedang terhunus. Ketika mendekat Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang hendak kau katakan wahai hamba Allah?” Abdullah terkaget, dengan gemetar ia menjawab, “Aku ingin mengatakan… Asyhadu an Laa Ilaaha IllaLlah wa asyhadu annaka Muhammad Rasulullah.” Dilemparnya pedang itu kemudian ia pun berlari memeluk Rasulullah SAW.

Aku terbangun. Masya Allah! Bulir-bulir keringat membasahi wajahku. Mulut tak mampu berkata-kata. Air mata pun mengalir menyaksikan kejadian dalam mimpiku itu. Aku ingiiin sekali memeluk erat makhluk paling mulia di muka bumi itu, namun tak bisa.

Teringat olehku sepuluh tahun yang lalu (1997) suasana indah itu pernah menghampar dalam mimpiku. Saat itu aku berada di antara para sahabat di Madinah dalam peristiwa Hijrah Rasulullah SAW. Kami tenggelam dengan perasaan penuh harap menanti kedatangan manusia pilihan Allah SWT yang telah membimbing kepada jalan yang lurus.

Kemudian para sahabat berseru sambil saling bersahutan. “Rasulullah datang, rasulullah datang.” Kami bahagia sekali. Bahagia dan haru itu melingkupi jiwa-jiwa kami waktu itu. Sesaat kemudian Rasulullah datang mendekatiku. Aku pun bertanya, “Ya Rasulullah, Abu Bakar mana?” Tiba-tiba aku terbangun dan menangis.

***

Maha Suci Allah. Menjelang Subuh kuceritakan mimpi yang kualami itu kepada istriku. “Subhanallah, indah banget. Wah itu tandanya abi..” “Syuutt,” kataku memotong pembicaraannya. “Ustadz Muzhofar pernah bilang memang syetan tidak bisa menyerupai rasulullah dalam mimpi. Jadi mimpi itu adalah nikmat tapi tidak bisa dijadikan dasar hukum apa pun,” kataku mengingatkan.

Seharian aku mencari-cari apa gerangan yang dikehendaki Allah SWT padaku dengan mimpi itu? Hingga dalam perjalanan pulang kantor. Di antara padatnya jalanan Jakarta, aku melambatkan laju sepeda motorku. Masya Allah! Ini adalah sebuah TEGURAN!

Ya TEGURAN. Teguran karena dalam rentang sepuluh tahun sejak rasulullah hadir dalam mimpiku, aku semakin jauh dari Allah Yang Maha Rahman. Teguran karena begitu banyak salah dan dosa menghiasi hidupku sementara sangat sangat sedikit amal shalehku.

Teguran karena begitu banyak siang dan malam ku yang berlalu sia-sia. Kesibukan siang hari yang melalaikanku saat malam tiba. Kelalaian malam hari yang menjauhkan aku dari tasbih kepada-Nya saat siang menjelang. Siang dan malam yang kelak akan dihisab itu telah berlalu begitu saja. Berlalu begitu saja. Masya Allah!

Dan mimpi itu PASTI TEGURAN karena dalam kurun itu banyak sunah-sunah Nabi yang kutinggalkan.

Ya Allah, Engkaulah yang menegakkan langit dan bumi dan di antara keduanya.
Engkaulah cahaya langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya.

Wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah kami.
Wahai Yang Maha Pengasih, kasihanilah kami.
Wahai Yang Maha Pemaaf, maafkanlah kami.
Wahai Yang Maha Penerima Taubat, terimalah taubat kami. Karena sesungguhnya tiada lagi tempat kami bertaubat selain kepada Engkau.
Wahai Yang Maha Suci, ijinkan kami kembali kepada-Mu.
Wahai Yang Maha Penyayang, karuniakan kami kesabaran dalam beribadah kepada-Mu dan menjalankan sunah Nabi-Mu.
Wahai Yang Maha Agung, karuniakan kami kekuatan untuk selalu bersyukur kepada-Mu dan untuk selalu memohon ampunan-Mu.

Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin

Qur’an dan Koran October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Bekal.
add a comment

Qur’an berasal dari kata qara’a yang artinya bacaan sedangkan koran adalah media cetak yang berisikan informasi dan berita, kita biasa menyebutnya surat kabar (suroh khobar). Qur’an berasal dari bahasa Arab sedangkan koran merupakan serapan bahasa Arab yang sudah di-Indonesia-kan. Tetapi saat ini kita tidak hendak membicarakan Qur’an dan koran secara bahasa maupun istilah, melainkan perbedaan penyikapan manusia terhadap keduanya.

Qur’an berasal dari Dzat Yang Maha Benar sedangkan koran diproduksi oleh sekelompok manusia yang senantiasa alpha. Jika Qur’an disampaikan oleh penyalur yang selalu berkata benar dan diterima oleh manusia benar lagi terpercaya maka koran disampaikan oleh manusia yang tidak dijamin kebenarannya. Koran diramu oleh sekumpulan ilmuwan, hartawan, dan wartawan yang mereka tidak dapat membuat seekor nyamukpun. Tapi Qur’an diturunkan dari Zat yang bukan saja seekor nyamuk bahkan alam semestalah yang Dia ciptakan.

Qur’an menceritakan berita dan informasi pada masa dahulu, kini dan yang akan datang secara pasti sedangkan koran memuat informasi dan berita kekinian yang penuh dengan dugaan-dugaan. Jika koran setiap hari menyajikan berbagai permasalahan maka Qur’an setiap saat menghidangkan solusi atas berbagai permasalahan. Saat koran menjadikan pembacanya terhanyut dalam ketakutan, kegetiran, kesenangan atau penuh kekhawatiran maka Qur’an menyadarkan pembacanya akan berbagai kekhawatiran, ketakutan, kegembiraan, dan kesedihan untuk kemudian menjadikan mereka tenang, tenteram, dan mendapatkan jalan terang atas berbagai hal tersebut. Berita Qur’an tetap relevan sepanjang zaman sementara berita koran segera usang walau baru sepekan.

Qur’an diturunkan menjadi penggugah akal sedangkan terbitnya koran tidak jarang menjadi pengeruh akal. Jika kisah-kisah dalam Qur’an membangunkan orang dari kelalaian maka kisah-kisah koran sering membuat orang justru menjadi lalai. Tahukah anda bahwa sebaik-baik kisah adalah kisah yang terdapat dalam Qur’an? Qur’an menjadi penerang menuju jalan yang terang mengeluarkan manusia dari kegelapan tapi koran sering menjadi peredup jalan mengaburkan pandangan dari cahaya kebenaran.

Tiada kebengkokan berita dalam Qur’an, semakin dibaca semakin hilang dugaan kebengkokan itu. Namun dalam koran begitu banyak kebingungan ditemukan, semakin dibaca semakin nyata kebingungannya. Begitulah, keberadaan Qur’an tidaklah menyusahkan namun kehadiran koran belum tentu menyenangkan.

Jika dahulu (zaman sahabat) Qur’an menjadi bacaan sehari-hari, maka kini koranlah yang menggantikan. Padahal koran tidaklah sepadan dengan Qur’an bahkan tidak layak untuk dipadankan, tetapi banyak manusia menjadikan koran sebagai pedoman sedangkan Qur’an hanya pajangan. Lihatlah! Berapa banyak orang stress sesaat setelah membaca koran, namun tengoklah kesejukan jiwa orang yang melafalkan Qur’an.

Satu hal yang mengherankan, seakan Qur’an hanya layak konsumsi bagi nak-kanak (begitu kata kawan saya dari Madura) atau orang tua saja sementara koran menjadi kebutuhan segala usia. Barangkali dikarenakan hanya koran saja yang dijadikan pedoman sementara Qur’an menjadi hiasan, negeri ini banyak dihuni para pencuri (yang terang-terangan maupun tersembunyi). Atau betul juga apa yang dikatakan Dr. Roem Rowi beberapa saat yang lalu bahwa umat ini masih banyak yang hanya bisa ‘membunyikan’ Qur’an tapi belum membacanya, sehingga lebih banyak orang yang paham koran daripada paham Qur’an. Betul?!

Air di Telunjuk dan Lautan October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Bekal.
add a comment

Cobalah masukkan jari telunjuk Anda ke permukaan lautan kemudian angkat kembali. Tahukah Anda, bahwa jumlah air yang tersisa di jari telunjuk Anda itulah kenikmatan dunia sedangkan lautan yang sangat luas itulah kenikmatan akhirat, begitu rasulullah SAW mengumpamakannya bagi kita. Oleh karenanya kenikmatan dunia bukanlah bandingan kenikmatan akhirat

Bekal Qiyamul Lail October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Bekal.
add a comment

“Dan pada sebagian malam, bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat mu ke tempat yang terpuji.”

(QS. 17:79)

 

sujud.jpgDari Bilal RA berkata, Rasulullah bersabda : “Rajinlah kalian bangun malam, sebab hal itu adalah kebiasaan para sholihin sebelum kalian, sarana pendekatan diri kepada Allah, dihapuskannya dosa-dosa kalian, dan sekaligus penangkal penyakit yang datang dari tubuh.” (HR At-turmudzi)

Ikhwati fiLlah,
Waktu terindah untuk bermunajat kepada Allah adalah di kala malam telah larut, di saat manusia dan makhluk lain tengah asyik menikmati tidurnya, di kala kehidupan mulai lengang. Di saat itu bangkitlah dari tidurmu, hadirkan hatimu dalam mengingat Allah. Resapkanlah kelemahanmu dan hadirkanlah keagungan Tuhanmu. Nikmatilah ketenangan dan kedamaian ketika engkau mengingat-Nya. Tangisi dosa, kesalahan dan kekeliruan yang engkau perbuat terhadap-Nya. Curahkan segala hajat dan istighfar keharibaan-Nya.

Ikhwati fiLlah,
Banyak sekali ayat dan hadits yang menerangkan keutamaan waktu malam dan mengisinya dengan ibadah. Para hamba Allah yang sholih menganjurkan kita untuk memanfaatkan waktu itu untuk berpacu dalam amal sholih. Meraka tidak sekedar berfatwa, tetapi melaksanakan apa yang mereka fatwakan. Mereka berdzikir, bertasbih, ruku’ dan sujud dengan segala kerendahan hati.

Ikhwati fiLlah,
Dhiraar Assudaa ‘i mengisahkan tentang kebesaran Ali bin Abi Thalib RA. Ali sangat tidak senang dengan berbagai bentuk yang berbau dunia, ia lebih senang dengan tibanya waktu malam. Suatu saat ia berdiri di mihrob sambil menangis seperti orang yang tertimpa musibah. Dalam tangisnya beliau mengucapkan: “Wahai dunia, rayulah orang lain, jangan coba dekati aku, aku telah ceraikan engkau dengan talak 3. Tidak ada kata rujuk. Sungguh umurku sangat pendek, perhitungan dan bahaya amatlah besar. Oh ?? celaka aku, perbekalanku hanyalah sedikit, tetapi perjalanan ini amatlah panjang dan berliku”.

Ikhwati fiLlah,
“Mengapa orang yang cinta shalat malam wajah mereka bercahaya, cerah dan ceria?” Pertanyaan seseorang kepada Al Hasan bin Ali. Beliau menjawab: “Karena meraka selalu berdialog dengan Allah di malam hari. Jangan heran kalau Allah memancarkan sebahagian cahayaNya kepada mereka”.

Ikhwati fiLlah,
Para hamba Allah yang sholih umumnya tidak lagi merasakan kelelahan akibat bangun dan shalat malam. Bahkan justru mereka meresakan kesegaran jiwa dan kelembutan hati. Mereka yang gemar shalat malam jauh merasa bahagia dibanding dengan mereka yang berpesta pora pada waktu yang sama. Ulama salafusshalih selalu berpendapat bahwa keni’matan yang menyerupai keni’matan akhirat adalah ibadah yang dilakukan di tengah malam. Bahkan Ibnu Munkadir mengatakan: “Tidak ada lagi kelezatan di dunia ini kecuali 3 hal saja yaitu Qiyamullail, shilaturrahim dan shalat jama’ah”.

Ikhwati fiLlah,
Itulah secuil kisah cinta Ulama salafusshalih yang telah mendahului kita terhadap qiyamullail. Kiranya kita bisa melanjutkan amal-amal mulia di waktu malam secara rutin meskipun sedikit. Semoga dapat menjadi bekalan yang dapat membantu dan mengantarkan kita kepada kekuatan jiwa dalam menghadapi tugas da’wah yang semakin hari semakin terasa berat.

Ikhwati fiLlah,
Patut kiranya kita ketahui nasihat dari Imam Assyahid Hasan Al Banna seputar hal yang dapat membantu kita untuk gemar dan mudah bangun malam:
1. Ikhlaskan niat
2. Pusatkan perhatian
3. Perbaharui taubat
4. Jauhi segala bentuk ma’siyat
5. Tidur malam sedini mungkiin
6. Mohonlah bantuan dan karunia Allah, Ia akan mengabulkannya Insya Allah

Menangis Yang Tidak Cengeng October 23, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Bekal.
add a comment

Kondisi hati manusia tiada pernah stabil selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan merasakan kegembiraan dan ketika dilanda musibah tidak sedikit orang yang kemudian putus asa lalu berpaling dari kebenaran. Kemantapan jiwa seseorang berbanding lurus dengan kualitas keimanannya, semakin menipis keimanan dalam jiwanya maka semakin sering hatinya goncang, apabila keimanan dalam jiwanya begitu dalam maka hatinya akan lebih stabil dan mudah menghadapi berbagai kondisi yang dialaminya.

Ketika seseorang mengalami kesedihan yang mendalam maka bisa jadi dia akan menangis karenanya. Bagi sebagian orang menangis itu adalah hal yang hina, tanda kelemahan. Orang Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakn tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.

Berbagai anggapan di atas tentunya tidak sepenuhnya benar. Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya yang bernama Ibrahim, beliau menyatakan betapa sedih hatinya karena kematian anaknya itu.

Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat di belakang rasulullah saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat : “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis.

Umar bin Khoththob seorang sahabat yang dikenal paling tegas justru luluh hatinya ketika suatu ketika mendengar seseorang membaca Surat Ath Thur sampai pada ayat ke tujuh yang berbunyi : “sesungguhnya siksaan Robbmu pasti terjadi”, seketika itu pula beliau jatuh pingsan, ketika bangkit dan mengingat ayat itu beliau jatuh lagi. Dan bukankah beliau mendapatkan hidayah setelah mendengar ayat-ayat Allah? Lihatlah betapa rasulullah saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka.

Bukankah di antara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Menetesnya air mata dalam kesendirian akan sulit terjadi jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. Tidak sedikit bahkan mereka yang mengaku mukmin pun bermaksiat dikala sendiri di dalam kamarnya tanpa ada orang yang melihat. Seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdoa kepada Robbnya dikarenakan banyak dan beratnya tugas yang harus diembannya di dunia ini.

Di zaman ketika manusia lalai dalam kehidupan dunia, seorang mukmin senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran umatnya, kesedihannya yang mendalam dan ihtimamnya (perhatiannya) terhadap kondisi umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap kebutuhan umat.

Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Ketika kaum muslim banyak yang terbunuh, terusir dari negerinya akibat konspirasi kejam musuh-musuh Allah, maka mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon dengan sangat kepada Robb semesta alam seraya dia terus berjuang menegakkan dinullah (Islam).

Ketika rasulullah saw mengumumkan perang terhadap orang-orang kafir, para sahabat dengan kesungguhan hati menginfakkan hartanya untuk ikut berperang. Namun di antara mereka ada yang datang meminta ikut, kemudian rasulullah saw berkata kepada mereka : “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”. Lalu mereka kembali, menangis sedih lantaran mereka tidak memiliki harta yang akan mereka belanjakan untuk berperang. (QS At Taubah 92) Tidak mungkin hal itu terjadi pada jiwa seseorang yang di dalamnya ada sifat nifaq. Menangisnya mereka ketika tidak dapat pergi berperang telah menyebabkan turunnya ayat di atas, dan Allah mengampuni mereka karenanya. Tiada seorang pun di antara mereka yang cengeng, tiada seorang pun di antara mereka yang lemah keimanannya, justru karena dalamnya keimanan mereka menangis dikarenakan tidak memiliki harta.

Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata : “Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”. (QS Al Maidah: 83).

Ketika rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin untuk hijrah ke negeri Habsyah, beliau meminta Ja’far bin Abdul Mutholib untuk memimpin kaum muslimin. Beliau mengatakan bahwa di Habsyah ada raja nasrani yang bijaksana. Setibanya di kerajaan Habsyah, terjadi negosiasi antara kaum muslimin (diwakili oleh Ja’far bin Abdul Mutholib) dengan raja Habsyah perihal keinginan kaum muslimin untuk tinggal sementara di negeri Habsyah karena tekanan yang mereka alami di kampung halaman mereka (Mekkah). Walaupun hasutan terhadap raja begitu gencar untuk menolak kaum muslimin, namun raja yang bijaksana itu minta dibacakan apa yang dibawa oleh Muhammad. Kemudian Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22. Demi mendengar ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah mengakui kebenaran ayat itu. Dia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Allahu Akbar! Akhirnya kaum muslimin diperbolehkan tinggal di negeri Habsyah. Demikianlah kapan pun dan dimana pun kebenaran akan senantasa benar. Dan para perindu kebenaran akan merasakannya manakala ia datang.

Orang yang keras hatinya, sulit untuk menangis ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun. Ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk penghormatan Abdullah bin Ubay bin Salul (gembong munafik di zaman rasulullah saw) kepada rasulullah saw, sedikit pun tidak bergetar hatinya ketika Allah swt mengecam perihal keadaan orang-orang munafik di akhirat nanti. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’ : 145)

Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa dikarenakan dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. “Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah : 82)

Barangkali di antara kita tidak pernah menangis, maka menangislah di saat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo’a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada.