jump to navigation

Karena Bekerja adalah Ibadah October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Manajemen.
add a comment

Umar bin Khattab telah menyatakan perang terhadap semua bentuk pengangguran, kemalasan, dan ketidakgiatan. Bahkan Umar bin Khattab pernah menarik keluar para pemuda yang diam di dalam mesjid dan tidak melakukan apa-apa. Umar memukul mereka dan berkata, “Keluar kalian, cari rezeki. Langit tidak akan menurunkan emas dan perak.”

Kemalasan dan ketidakgiatan hanya akan melahirkan pikiran-pikiran yang negatif, kesengsaraan, penyakit kejiwaan, kerapuhan jaringan syaraf, keresahan, dan kegundahan. Sedangkan kerja dan semangat akan mendatangkan kegembiraan, suka cita dan kebahagiaan.

Segala kecemasan, keresahan, kegundahan, dan penyakit-penyakit intelektual, syaraf dan jiwa, akan berakhir bila masing-masing kita menjalankan peranannya dalam hidup ini. Sehingga semua lapangan kerja menjadi ramai. Pabrik-pabrik menjadi produktif, tempat-tempat kerja akan sibuk, lembaga-lembaga sosial dan dakwah dibuka kembali, dan pusat-pusat kegiatan budaya dan ilmiah marak di mana-mana.

Firman Allah, “Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu sekalian’.” “Menyebarlah di permukaan bumi.” “Bersegaralah!” “Cepat-cepatlah.”

Juga sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Nabi Allah Daud akan makan dari hasil kerja tangannya.”

Al-Rasyid memiliki sebuah buku yang berjudul Shin’atul Hayat (Merancang Kehidupan). Dalam buku ini ia berbicara banyak tentang masalah ini dan menyebutkan bahwa banyak orang yang tidak memainkan peran yang seharusnya mereka perankan dalam kehidupan ini, “Mereka hidup, tapi seperti orang yang sudah mati. Mereka tidak menangkap apa rahasia dibalik kehidupan mereka, mereka tidak melakukan yang terbaik untuk masa depan, umat maupun diri mereka sendiri.”

Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang.

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang yang berjihad di jalan Allah. (QS An-Nisa’: 94)

Mari Perbesar Zona Nyaman October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Manajemen.
add a comment

Dalam perjalanan di shuttle bus menuju bandara Soekarno Hatta Jakarta, saya berkenalan dengan seorang owner perusahaan penyedia layanan IT untuk Base Transceiver Station (BTS) -tower penguat sinyal telepon seluler, pen-. Pak Djarot, begitu ia dipanggil, penampilannya sederhana, sama sekali tidak mengesankan dirinya seorang pengusaha sukses di bidang IT. Kami pun terlibat pembicaraan hangat.

“Ngomong-ngomong apa sih rahasia sukses bapak?” Tanya saya menggali. “Mas, saya membuat keputusan besar dalam hidup dan pekerjaan saya,” jawabnya antusias. “Tekad dan pengalaman saya menjadi modal untuk mendirikan perusahaan sendiri,” kenang lulusan Universitas Brawijaya itu. Di awal sang istri menentang keputusannya. “Ya, karena istri saya sudah merasa nyaman dengan gaji besar yang saya terima,” ungkap pria kelahiran Malang Jawa Timur itu. Singkat cerita, kini perusahaan yang dipimpinnya menjadi mitra beberapa operator seluler besar di negeri ini.

Ya, Pak Djarot adalah potret sukses sebagian orang-orang penting yang melakukan hal penting dalam hidupnya. Pak Djarot telah melakukan terobosan besar. Ia telah berhasil keluar dari zona nyamannya dan membuat zona nyaman baru yang jauh lebih besar. Laksana karet gelang yang bisa diperbesar lingkarannya, ia telah berhasil memperbesar lingkaran karet gelang itu.

Nah, bicara tentang zona nyaman (comfortable zone), tahukah Anda bahwa masing-masing kita memilikinya? Ia tidak terlihat oleh mata tapi kitalah yang membatasinya.

Contohnya begini, jika saat ini posisi kita sebagai sekretaris dan kita nyaman dengan pekerjaan teknis yang datang dari atasan, maka itulah zona nyaman kita. Saat kita berupaya kreatif dan inovatif meningkatkan kualitas kesekretarisan kita, bahkan kita mampu menaklukkan tantangan yang sebelumnya kita anggap mustahil untuk dikerjakan, maka kita sedang memperbesar zona nyaman itu.

Tentu ada gejolak yang muncul saat pertama melakukan hal-hal tersebut, namun lama kelamaan kita menjadi terbiasa dan saat itulah zona nyaman kita menjadi lebih besar. Zona nyaman yang membesar menandakan kapasitas diri yang semakin besar.