jump to navigation

Lelaki di Perbatasan May 1, 2012

Posted by kafepeduli in Peduli Keluarga.
add a comment

Berkali-kali lelaki itu mengucap syukur. Mulutnya tak henti-henti mengagungkan Allah SWT. Sesekali ia membenahi kopiah putih setengah lusuh yang selalu menempel di kepalanya. Di usianya yang 70 tahun itu, ia terlihat makin khusyu. Berjalan dengan penuh tawadhu tidak banyak bicara kecuali mengagungkan Allah SWT.

Abah Parni, lelaki shaleh lanjut usia itu tinggal di Desa Cibingbin, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Sebuah desa terpencil yang letaknya kurang lebih 35 km arah Timur Kota Kuningan, Jawa Barat. Posisinya persis di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sekitar dua kilometer ke arah timur dari desanya sudah masuk Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Untuk menuju ke sana kita harus melalui gunung dengan jalanan khas mendaki. Di kanan kiri ada tebing tinggi dan jurang yang dalam serta penuh tikungan tajam.

Usai sholat subuh di Musholla Bani Syahir, kami terlibat pembicaraan hangat. Saat itu saya memang sedang mudik lebaran 1428 H. Lelaki yang juga teman akrab almarhum ayah saya ini raut wajahnya bersih bercahaya menyiratkan kegemarannya berwudhu dan shalat tahajud.

Masa mudanya sempat dilanda gundah dan gelisah. Pasalnya, teman-temannya waktu itu banyak yang jadi PNS, pegawai A, pegawai B, sedang dia hanyalah pedagang kecil dan buruh tani. Ia pun sempat mengkhawatirkan masa depan diri dan keluarganya. Namun dari sinilah cerita itu bermula. Kegundahan itu disiasatinya dengan banyak bersedekah.

Keberuntungan Susul Menyusul
Abah Parni punya pohon mangga di depan rumahnya yang hasilnya ia jual ke pasar. Setiap kali musim mangga, ia undang tetangga-tetangganya untuk menikmati hasil pohonnya itu bersama-sama. Ia yakin bahwa Allah SWT Maha Kaya dan akan mengganti dengan yang lebih baik.

Bertahun-tahun ia lazimkan kebiasaan baik itu. Keberuntungan pun susul menyusul menghampirinya. Makin lama makin banyak tetangganya yang memberinya lebih besar dari apa yang dia beri. “Abah, kamarin saya baru saja panen. Ini untuk Abah karena Abah pernah memberi saya buah saat benar-benar membutuhkan,” ujarnya menirukan ucapan tetangganya yang memberinya sekarung pepaya. Subhanallah

Bukan hanya itu, dagangannya pun makin bersinar. “Setiap kali saya dapat untung langsung saya sedekahkan dan sisanya ditabung dalam bentuk emas,” ungkapnya. Bertani masih ia jalani, namun sedikit demi sedikit ia mulai mampu membeli sawah. “Allah benar-benar Maha Kaya hingga memampukan saya untuk membeli sawah,” tuturnya.

Hingga akhirnya ia dan istrinya dimampukan memenuhi panggilan Allah SWT menunaikan ibadah haji di Makkah Al Mukarromah. “Subhanallah, kalau ingat nikmat-nikmat itu saya jadi menangis,” lanjut pria berjanggut tipis itu.

Berkah itu Bertambahnya Kebaikan
Kisah di atas menunjukkan betapa berkahnya kehidupan Abah Parni. Seorang lelaki sederhana yang tinggal di perbatasan dengan segala keterbatasannya ternyata begitu diperhatikan oleh Allah SWT. Kegelisahannya terbayar dengan kemurahan hati, kegundahannya sirna, kekhawatiran hidupnya berganti dengan nikmat Allah SWT.

Benarlah perumpamaan yang Allah sampaikan dalam surat Al Baqarah ayat 265, “Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiramnya maka embun (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Pohon mangga Abah Parni adalah bukti keberkahan itu. Ia telah memberi banyak manfaat bagi orang lain karena pemilikinya seorang lelaki shaleh yang beriman kepada Allah SWT. Sumber keberkahan itu hanyalah dari Allah SWT. Dia tidak memberinya kepada sembarang manusia kecuali hanya orang beriman dan bertaqwa saja. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raaf : 96).

Seorang ulama mengatakan salah satu ciri keberkahan pada sesuatu adalah ziyadatul khair atau bertambahnya kebaikan. Ilmu yang dianugerahi Allah SWT menjadi berkah jika menambah kebaikan dalam hidup. Harta yang dititipkan Allah SWT menjadi berkah saat kepedulian pribadi maupun sosialnya meningkat. Harta itu tidak membuatnya kikir dan takut miskin, justru membuatnya begitu dermawan dan menebar manfaat bagi banyak orang. Keluarganya diliputi kasih sayang dan mengalirkan energi kasih sayang itu bagi sekelilingnya.

Ketika pintu-pintu langit dibuka oleh Allah SWT berupa bertambahnya harta yang dititipkan, maka seorang muzakki akan makin shaleh dengan zakatnya. Seorang mustahik makin shaleh karena zakat yang diterimanya dan program pemberdayaan yang diikutinya. Dan yang paling penting adalah seorang amil zakat makin meningkat ketakwaannya kepada Allah SWT, makin menjaga waktu-waktu ibadahnya, makin baik akhlaknya, makin menjauh dari maksiat dan makin sering ia bertaubat.

Seandainya negeri ini dipenuhi jutaan Abah Parni, orang shaleh yang penuh sedekah, niscaya keberkahan Allah semakin melimpah ruah. Berkah dalam waktu, berkah dalam harta, berkah dalam keluarga, bahkan berkah dalam negara.

Terakhir Abah Parni berpesan sebuah ungkapan berbahasa Sunda, “Nu Medit Teu Mahi-Mahi, Nu Jembar Teu Kurang-Kurang.” (Orang kikir takkan pernah cukup, orang dermawan takkan pernah kekurangan). Ya, benar sekali Abah.

Advertisements

Mimpi Itu Menegurku Kembali October 30, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Bekal.
1 comment so far

Bekasi, 11 Syawal 1428 H

Tiba-tiba Abdullah bin Amr bin Ash datang kepada Rasulullah SAW dengan pedang terhunus. Ketika mendekat Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang hendak kau katakan wahai hamba Allah?” Abdullah terkaget, dengan gemetar ia menjawab, “Aku ingin mengatakan… Asyhadu an Laa Ilaaha IllaLlah wa asyhadu annaka Muhammad Rasulullah.” Dilemparnya pedang itu kemudian ia pun berlari memeluk Rasulullah SAW.

Aku terbangun. Masya Allah! Bulir-bulir keringat membasahi wajahku. Mulut tak mampu berkata-kata. Air mata pun mengalir menyaksikan kejadian dalam mimpiku itu. Aku ingiiin sekali memeluk erat makhluk paling mulia di muka bumi itu, namun tak bisa.

Teringat olehku sepuluh tahun yang lalu (1997) suasana indah itu pernah menghampar dalam mimpiku. Saat itu aku berada di antara para sahabat di Madinah dalam peristiwa Hijrah Rasulullah SAW. Kami tenggelam dengan perasaan penuh harap menanti kedatangan manusia pilihan Allah SWT yang telah membimbing kepada jalan yang lurus.

Kemudian para sahabat berseru sambil saling bersahutan. “Rasulullah datang, rasulullah datang.” Kami bahagia sekali. Bahagia dan haru itu melingkupi jiwa-jiwa kami waktu itu. Sesaat kemudian Rasulullah datang mendekatiku. Aku pun bertanya, “Ya Rasulullah, Abu Bakar mana?” Tiba-tiba aku terbangun dan menangis.

***

Maha Suci Allah. Menjelang Subuh kuceritakan mimpi yang kualami itu kepada istriku. “Subhanallah, indah banget. Wah itu tandanya abi..” “Syuutt,” kataku memotong pembicaraannya. “Ustadz Muzhofar pernah bilang memang syetan tidak bisa menyerupai rasulullah dalam mimpi. Jadi mimpi itu adalah nikmat tapi tidak bisa dijadikan dasar hukum apa pun,” kataku mengingatkan.

Seharian aku mencari-cari apa gerangan yang dikehendaki Allah SWT padaku dengan mimpi itu? Hingga dalam perjalanan pulang kantor. Di antara padatnya jalanan Jakarta, aku melambatkan laju sepeda motorku. Masya Allah! Ini adalah sebuah TEGURAN!

Ya TEGURAN. Teguran karena dalam rentang sepuluh tahun sejak rasulullah hadir dalam mimpiku, aku semakin jauh dari Allah Yang Maha Rahman. Teguran karena begitu banyak salah dan dosa menghiasi hidupku sementara sangat sangat sedikit amal shalehku.

Teguran karena begitu banyak siang dan malam ku yang berlalu sia-sia. Kesibukan siang hari yang melalaikanku saat malam tiba. Kelalaian malam hari yang menjauhkan aku dari tasbih kepada-Nya saat siang menjelang. Siang dan malam yang kelak akan dihisab itu telah berlalu begitu saja. Berlalu begitu saja. Masya Allah!

Dan mimpi itu PASTI TEGURAN karena dalam kurun itu banyak sunah-sunah Nabi yang kutinggalkan.

Ya Allah, Engkaulah yang menegakkan langit dan bumi dan di antara keduanya.
Engkaulah cahaya langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya.

Wahai Yang Maha Pengampun, ampunilah kami.
Wahai Yang Maha Pengasih, kasihanilah kami.
Wahai Yang Maha Pemaaf, maafkanlah kami.
Wahai Yang Maha Penerima Taubat, terimalah taubat kami. Karena sesungguhnya tiada lagi tempat kami bertaubat selain kepada Engkau.
Wahai Yang Maha Suci, ijinkan kami kembali kepada-Mu.
Wahai Yang Maha Penyayang, karuniakan kami kesabaran dalam beribadah kepada-Mu dan menjalankan sunah Nabi-Mu.
Wahai Yang Maha Agung, karuniakan kami kekuatan untuk selalu bersyukur kepada-Mu dan untuk selalu memohon ampunan-Mu.

Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin

Belajar Ibadah dari Anak October 25, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Keluarga.
add a comment

Bekasi, 1 Syawal 1428 H

Segala Puji hanyalah milik Allah SWT.

Hatiku tiba-tiba tersentak. Saat aku, istriku, dan 2 orang putraku baru saja pulang dari sholat Id di Masjid Darul Hikmah Bekasi.

hilmi-doa.jpg

Belum selesai aku menyalami anakku satu persatu. Istriku menciumi kening Hilmi, putra pertama kami, sambil menangis sesunggukan. “Maafin ummi ya sayang. Ummi sayang banget sama Hilmi,” tuturnya terbata-bata. “Alhamdulillah Hilmi sudah menabung amal shaleh karena bisa puasa sebulan penuh,” lanjutnya sambil mendekap erat anakku.

Tak pelak Hilmi yang baru berusia 5 tahun itu pun menangis. Ahmad, adiknya yang berumur 2 tahun pun ikut menangis. Mereka menangis karena melihat ibunya meneteskan air mata. Pagi itu kami sekeluarga menangis terharu. Mensyukuri nikmat Allah yang teramat banyak.

Terbayang di benakku, saat-saat Hilmi makan sahur sedang matanya masih terpejam. Ia berjuang melawan kantuknya dengan susah payah. Ibunya yang luar biasa sabar itu pun setia menyuapi makan sahur anakku.

“Hilmi nanti di surga akan masuk melalui pintu Ar Royan lho,” tutur istriku lembut. Ucapan itu senantiasa di ulangnya kala sahur atau ketika Hilmi merengek meminta buka sebelum Maghrib tiba. Alhamdulillah, Allah SWT berkenan menguatkan Hilmi hingga berhasil puasa sebulan penuh mulai Subuh sampai Maghrib.

Allahu Akbar! Allah Maha Besar telah membukakan mataku tentang perjuangan ibadah seorang anak kecil. Anak yang selama ini merengek kepadaku, bertanya segala hal, dan selalu memintaku dongeng menjelang tidurnya.

Ia dan anak-anak seusianya memang belum diwajibkan berpuasa. Karena Allah Maha Mengetahui kadar kekuatan manusia. Pastilah berat baginya untuk menahan lapar dan haus dari Subuh hingga Maghrib. Namun Allah tidak akan memberi beban melebihi kemampuan hamba-Nya.

“Abi, aku sudah nabung amal shaleh ya?” Tanyanya polos. Saya dan istri kembali mencium keningnya, memeluknya dengan erat seraya berkata, “Iya sayang, kamu sudah menabung amal shaleh.”

Ya Allah anugerahkanlah kami kesabaran dalam beribadah kepada-Mu.

“(Dialah) Robb langit dan bumi dan apa saja yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Maryam : 65) 

Qur’an dan Koran October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Bekal.
add a comment

Qur’an berasal dari kata qara’a yang artinya bacaan sedangkan koran adalah media cetak yang berisikan informasi dan berita, kita biasa menyebutnya surat kabar (suroh khobar). Qur’an berasal dari bahasa Arab sedangkan koran merupakan serapan bahasa Arab yang sudah di-Indonesia-kan. Tetapi saat ini kita tidak hendak membicarakan Qur’an dan koran secara bahasa maupun istilah, melainkan perbedaan penyikapan manusia terhadap keduanya.

Qur’an berasal dari Dzat Yang Maha Benar sedangkan koran diproduksi oleh sekelompok manusia yang senantiasa alpha. Jika Qur’an disampaikan oleh penyalur yang selalu berkata benar dan diterima oleh manusia benar lagi terpercaya maka koran disampaikan oleh manusia yang tidak dijamin kebenarannya. Koran diramu oleh sekumpulan ilmuwan, hartawan, dan wartawan yang mereka tidak dapat membuat seekor nyamukpun. Tapi Qur’an diturunkan dari Zat yang bukan saja seekor nyamuk bahkan alam semestalah yang Dia ciptakan.

Qur’an menceritakan berita dan informasi pada masa dahulu, kini dan yang akan datang secara pasti sedangkan koran memuat informasi dan berita kekinian yang penuh dengan dugaan-dugaan. Jika koran setiap hari menyajikan berbagai permasalahan maka Qur’an setiap saat menghidangkan solusi atas berbagai permasalahan. Saat koran menjadikan pembacanya terhanyut dalam ketakutan, kegetiran, kesenangan atau penuh kekhawatiran maka Qur’an menyadarkan pembacanya akan berbagai kekhawatiran, ketakutan, kegembiraan, dan kesedihan untuk kemudian menjadikan mereka tenang, tenteram, dan mendapatkan jalan terang atas berbagai hal tersebut. Berita Qur’an tetap relevan sepanjang zaman sementara berita koran segera usang walau baru sepekan.

Qur’an diturunkan menjadi penggugah akal sedangkan terbitnya koran tidak jarang menjadi pengeruh akal. Jika kisah-kisah dalam Qur’an membangunkan orang dari kelalaian maka kisah-kisah koran sering membuat orang justru menjadi lalai. Tahukah anda bahwa sebaik-baik kisah adalah kisah yang terdapat dalam Qur’an? Qur’an menjadi penerang menuju jalan yang terang mengeluarkan manusia dari kegelapan tapi koran sering menjadi peredup jalan mengaburkan pandangan dari cahaya kebenaran.

Tiada kebengkokan berita dalam Qur’an, semakin dibaca semakin hilang dugaan kebengkokan itu. Namun dalam koran begitu banyak kebingungan ditemukan, semakin dibaca semakin nyata kebingungannya. Begitulah, keberadaan Qur’an tidaklah menyusahkan namun kehadiran koran belum tentu menyenangkan.

Jika dahulu (zaman sahabat) Qur’an menjadi bacaan sehari-hari, maka kini koranlah yang menggantikan. Padahal koran tidaklah sepadan dengan Qur’an bahkan tidak layak untuk dipadankan, tetapi banyak manusia menjadikan koran sebagai pedoman sedangkan Qur’an hanya pajangan. Lihatlah! Berapa banyak orang stress sesaat setelah membaca koran, namun tengoklah kesejukan jiwa orang yang melafalkan Qur’an.

Satu hal yang mengherankan, seakan Qur’an hanya layak konsumsi bagi nak-kanak (begitu kata kawan saya dari Madura) atau orang tua saja sementara koran menjadi kebutuhan segala usia. Barangkali dikarenakan hanya koran saja yang dijadikan pedoman sementara Qur’an menjadi hiasan, negeri ini banyak dihuni para pencuri (yang terang-terangan maupun tersembunyi). Atau betul juga apa yang dikatakan Dr. Roem Rowi beberapa saat yang lalu bahwa umat ini masih banyak yang hanya bisa ‘membunyikan’ Qur’an tapi belum membacanya, sehingga lebih banyak orang yang paham koran daripada paham Qur’an. Betul?!

Miskin Struktural October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Sosial.
add a comment

“Poverty is not created by poor people. It is produced by our failure to create institutions to support human capabilities”

Prof.Yunos, Founder Grameen Bank, Bangladesh.

Dari pernyataan itu tersirat bahwa kemiskinan itu akibat kesalahan pembuat kebijakan dan keputusan dalam pembangunan negara yang tidak menyentuh kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan manusia. Kemiskinan merupakan buah dari salah urus dalam pengelolaan negara, dan tidak ada persoalan yang lebih besar selain kemiskinan.

Kebijakan pemerintah yang terlalu fokus pada pertumbuhan ekonomi saja dan tidak memberi peluang pada peningkatan kemampuan sosial ekonomi rakyat ditingkat masyarakat marginal menyebabkan jurang perbedaan yang kaya dan miskin bertambah mencolok. Penyebab kemiskinan ibarat sebuah lingkaran setan, sulit untuk diputusnya. Namun sebenarnya bisa diakhiri dengan waktu yang cukup panjang, sebagai sebuah proses tentunya diperlukan kesabaran dan konsistensi. Artinya selain yang sifatnya tanggap darurat harus ada program terpadu dan terstruktur dan komitmen pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan.

Pemberantasan kemiskinan tidak semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan keuletan dari mereka yang ingin mengubah nasib dan pemerintah sebagai fasilitator. Pemerintah Orde Baru yang sentralistik telah gagal memperkecil jumlah rakyat miskin, bahkan di akhir menjelang keruntuhannya rakyat miskin malah bertambah dua kali lipat.

Kemudian pemerintahan era reformasi mengeluarkan serangkaian kebijakan penanggulangan kemiskinan, dengan berbagai program dan pendekatan di antaranya kredit usaha tani (KUT) tahun 1998 yang nilainya mencapai Rp 8.4 triliun, kemudian kredit ketahanan pangan (KKP) tahun 2000, senilai Rp 2,3 triliun, program pengembangan kecamatan (PPK), program penanggulangan kemiskinan di perkotaan (P2KP), jaringan pengaman sosial (JPS) tahun 1999 dan projek padat karya (PPK). Program tersebut tidak memberikan dampak positif secara maksimal, tidak sesuai target yang diharapkan, yaitu dapat menggerakkan perekonomian masyarakat dan mengurangi rakyat miskin.

Bagaimana mewujudkannya?

Air di Telunjuk dan Lautan October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Bekal.
add a comment

Cobalah masukkan jari telunjuk Anda ke permukaan lautan kemudian angkat kembali. Tahukah Anda, bahwa jumlah air yang tersisa di jari telunjuk Anda itulah kenikmatan dunia sedangkan lautan yang sangat luas itulah kenikmatan akhirat, begitu rasulullah SAW mengumpamakannya bagi kita. Oleh karenanya kenikmatan dunia bukanlah bandingan kenikmatan akhirat

Memberi Barang Yang Dicintai October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Zakat.
add a comment

Membaca tafsir Al-Azhar karangan Prof. Dr. Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (HAMKA) surat An Nisaa’ayat 92 hati ini tiba-tiba tersentak dengan uraian beliau. Beliau tidak banyak berkomentar tetapi langsung kepada contoh para sahabat dalam mengamalkannya.

Begini ceritanya. Di dalam ayat 92 dari surat An Nisaa’, Allah SWT berfirman: “Sekali-kali tidaklah kamu akan mencapai kebaikan, sebelum kamu mendermakan sebagian dari harta yang kamu sayangi. Dan apa juapun dari sesuatu yang kamu dermakan itu seseungguhnya Allah mengetahui”.(Tafsir Al Azhar Juz IV, hal 14).

Beliau (HAMKA) memulai dengan uraian: ”Bernilai maupun tidak derma dan pengurbanan yang kamu keluarkan, barang sangat engkau cintaikah atau barang yang telah bosan engkau memakainya, barang mahalkah atau murah, ikhlaskah atau ria, mungkin orang lain tidak tahu maksudmu, namun Allah tetap mengetahuinya”.

Kemudian beliau membuka tafsir ayat ini dengan keterangan tentang pengaruh ayat ini terhadap kehidupan para sahabat ridhwanullahu álaihim. “Setelah ayat ini turun bukan main besar pengaruhnya kepada sahabat-sahabat Nabi kita dan selanjutnya menjadi pendidikan batin yang mendalam sekali di hati muslim yang hendak mempertinggi mutu imannya”.

Selanjutnya beliau bertutur banyak tentang kisah para sahabat dalam berlomba-lomba mengamalkan ayat ini. Diawali dengan kisah Abu Tholhah yang menginfakkan kekayaan satu-satunya yang amat dibanggakannya yaitu sebuah kebun bernama Bairuhaa’ tidak jauh dari masjid Madinah.

Selanjutnya kisah tentang bekas anak angkat rasulullah SAW Zaid bin Haritsah yang membawa kuda tunggangan yang amat dikasihinya bernama “Subul”. Kesedihan membayang di mata Zaid saat berpisah dengan kuda kesayangannya, namun kebijaksanaan rasulullah sangat tepat, beliau memberikan kuda itu kepada Usamah bin Zaid anak Zaid bin Haritsah.

Masih ada beberapa kisah lagi yang menggambarkan orang-orang yang mau mengorbankan kesayangannya uintuk diinfakkan di jalan Allah swt.

Terakhir yang tidak kalah menarik dan inilah teladan yang paling tinggi dalam hal memberikan hadiah yang paling dicintai itu. Sepulang dari pasar membeli baju, di luar pasar ada seorang pemuda yang berteriak-teriak meminta baju kepada orang yang lewat. Setelah sampai di belakang pemuda tersebut rasulullah saw (tanpa pikir panjang) langsung memberikan baju yang baru dibelinya kepada pemuda itu.

Setelah mengetahui kebiasaan rasulullah yang demikian, maka para sahabat selalu berhati-hati dalam memandang apa saja yang ada pada diri rasulullah. Ada seorang pemuda yang selalu memandangi gamis beliau, kemudian beliau bertanya: ”Apakah kamu suka gamis ini?” Ketika pemuda itu mengiyakan beliau langsung memberikan gamisnya itu.

“Maka apabila cinta seseorang telah terpusat kepada Allah, tidaklah akan ada cintanya yang lain lagi, sehingga belumlah dia merasa puas berbuat baik kalau belum diberikannya barang yang paling dicintainya.”(Tafsir Al-Azhar Juz IV, hal 20).

Karena Bekerja adalah Ibadah October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Manajemen.
add a comment

Umar bin Khattab telah menyatakan perang terhadap semua bentuk pengangguran, kemalasan, dan ketidakgiatan. Bahkan Umar bin Khattab pernah menarik keluar para pemuda yang diam di dalam mesjid dan tidak melakukan apa-apa. Umar memukul mereka dan berkata, “Keluar kalian, cari rezeki. Langit tidak akan menurunkan emas dan perak.”

Kemalasan dan ketidakgiatan hanya akan melahirkan pikiran-pikiran yang negatif, kesengsaraan, penyakit kejiwaan, kerapuhan jaringan syaraf, keresahan, dan kegundahan. Sedangkan kerja dan semangat akan mendatangkan kegembiraan, suka cita dan kebahagiaan.

Segala kecemasan, keresahan, kegundahan, dan penyakit-penyakit intelektual, syaraf dan jiwa, akan berakhir bila masing-masing kita menjalankan peranannya dalam hidup ini. Sehingga semua lapangan kerja menjadi ramai. Pabrik-pabrik menjadi produktif, tempat-tempat kerja akan sibuk, lembaga-lembaga sosial dan dakwah dibuka kembali, dan pusat-pusat kegiatan budaya dan ilmiah marak di mana-mana.

Firman Allah, “Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu sekalian’.” “Menyebarlah di permukaan bumi.” “Bersegaralah!” “Cepat-cepatlah.”

Juga sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Nabi Allah Daud akan makan dari hasil kerja tangannya.”

Al-Rasyid memiliki sebuah buku yang berjudul Shin’atul Hayat (Merancang Kehidupan). Dalam buku ini ia berbicara banyak tentang masalah ini dan menyebutkan bahwa banyak orang yang tidak memainkan peran yang seharusnya mereka perankan dalam kehidupan ini, “Mereka hidup, tapi seperti orang yang sudah mati. Mereka tidak menangkap apa rahasia dibalik kehidupan mereka, mereka tidak melakukan yang terbaik untuk masa depan, umat maupun diri mereka sendiri.”

Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang.

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang yang berjihad di jalan Allah. (QS An-Nisa’: 94)

Bekal Qiyamul Lail October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Bekal.
add a comment

“Dan pada sebagian malam, bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat mu ke tempat yang terpuji.”

(QS. 17:79)

 

sujud.jpgDari Bilal RA berkata, Rasulullah bersabda : “Rajinlah kalian bangun malam, sebab hal itu adalah kebiasaan para sholihin sebelum kalian, sarana pendekatan diri kepada Allah, dihapuskannya dosa-dosa kalian, dan sekaligus penangkal penyakit yang datang dari tubuh.” (HR At-turmudzi)

Ikhwati fiLlah,
Waktu terindah untuk bermunajat kepada Allah adalah di kala malam telah larut, di saat manusia dan makhluk lain tengah asyik menikmati tidurnya, di kala kehidupan mulai lengang. Di saat itu bangkitlah dari tidurmu, hadirkan hatimu dalam mengingat Allah. Resapkanlah kelemahanmu dan hadirkanlah keagungan Tuhanmu. Nikmatilah ketenangan dan kedamaian ketika engkau mengingat-Nya. Tangisi dosa, kesalahan dan kekeliruan yang engkau perbuat terhadap-Nya. Curahkan segala hajat dan istighfar keharibaan-Nya.

Ikhwati fiLlah,
Banyak sekali ayat dan hadits yang menerangkan keutamaan waktu malam dan mengisinya dengan ibadah. Para hamba Allah yang sholih menganjurkan kita untuk memanfaatkan waktu itu untuk berpacu dalam amal sholih. Meraka tidak sekedar berfatwa, tetapi melaksanakan apa yang mereka fatwakan. Mereka berdzikir, bertasbih, ruku’ dan sujud dengan segala kerendahan hati.

Ikhwati fiLlah,
Dhiraar Assudaa ‘i mengisahkan tentang kebesaran Ali bin Abi Thalib RA. Ali sangat tidak senang dengan berbagai bentuk yang berbau dunia, ia lebih senang dengan tibanya waktu malam. Suatu saat ia berdiri di mihrob sambil menangis seperti orang yang tertimpa musibah. Dalam tangisnya beliau mengucapkan: “Wahai dunia, rayulah orang lain, jangan coba dekati aku, aku telah ceraikan engkau dengan talak 3. Tidak ada kata rujuk. Sungguh umurku sangat pendek, perhitungan dan bahaya amatlah besar. Oh ?? celaka aku, perbekalanku hanyalah sedikit, tetapi perjalanan ini amatlah panjang dan berliku”.

Ikhwati fiLlah,
“Mengapa orang yang cinta shalat malam wajah mereka bercahaya, cerah dan ceria?” Pertanyaan seseorang kepada Al Hasan bin Ali. Beliau menjawab: “Karena meraka selalu berdialog dengan Allah di malam hari. Jangan heran kalau Allah memancarkan sebahagian cahayaNya kepada mereka”.

Ikhwati fiLlah,
Para hamba Allah yang sholih umumnya tidak lagi merasakan kelelahan akibat bangun dan shalat malam. Bahkan justru mereka meresakan kesegaran jiwa dan kelembutan hati. Mereka yang gemar shalat malam jauh merasa bahagia dibanding dengan mereka yang berpesta pora pada waktu yang sama. Ulama salafusshalih selalu berpendapat bahwa keni’matan yang menyerupai keni’matan akhirat adalah ibadah yang dilakukan di tengah malam. Bahkan Ibnu Munkadir mengatakan: “Tidak ada lagi kelezatan di dunia ini kecuali 3 hal saja yaitu Qiyamullail, shilaturrahim dan shalat jama’ah”.

Ikhwati fiLlah,
Itulah secuil kisah cinta Ulama salafusshalih yang telah mendahului kita terhadap qiyamullail. Kiranya kita bisa melanjutkan amal-amal mulia di waktu malam secara rutin meskipun sedikit. Semoga dapat menjadi bekalan yang dapat membantu dan mengantarkan kita kepada kekuatan jiwa dalam menghadapi tugas da’wah yang semakin hari semakin terasa berat.

Ikhwati fiLlah,
Patut kiranya kita ketahui nasihat dari Imam Assyahid Hasan Al Banna seputar hal yang dapat membantu kita untuk gemar dan mudah bangun malam:
1. Ikhlaskan niat
2. Pusatkan perhatian
3. Perbaharui taubat
4. Jauhi segala bentuk ma’siyat
5. Tidur malam sedini mungkiin
6. Mohonlah bantuan dan karunia Allah, Ia akan mengabulkannya Insya Allah

Pilih Sahabat yang Baik October 24, 2007

Posted by kafepeduli in Peduli Remaja.
add a comment

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan Si Fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan syaitan itu tidak mau menolong manusia”
(QS. Al Furqoon:28-29)

sahabat0.jpgSebagai makhluk sosial wajar jika manusia memerlukan orang lain untuk membincangkan berbagai kebutuhan hidupnya. Adakalanya manusia saling berinteraksi satu sama lain hanya untuk berbagi rasa dan asa. Keberadaan orang lain di sisinya dibutuhkannya sebagai orang yang dipercaya untuk memegang berbagai rahasia-rahasia dirinya. Oleh karena pentingnya hubungan kemanusiaan dalam konteks kehidupan di dunia itulah Allah swt mengingatkan kepada kita untuk selektif dalam memilah dan memilih sahabat.

Tahukah kamu bahwa salah memilih sahabat akan membawa implikasi serius dunia dan akhirat? Jika yang salah memilih sahabat hanya anak kecil kemungkinan implikasinya hanyalah menangis. Bagaimana jika yang salah memilih sahabat adalah anak-anak yang masih sekolah? Kemungkinan yang terjadi adalah tawuran pelajar, kecanduan narkoba, seks bebas dan berbagai perilaku amoral lainnya.

Itu pada lingkup pelajar, bagaimana jika kesalahan itu terjadi pada lingkup negara? Tidak sedikit rakyat yang akan menderita jika seorang kepala negara (presiden) salah dalam memilih orang kepercayaan (nabi saw mengistilahkan bithonah/penasehat), berbagai informasi penting yang seharusnya menjadi peringatan bagi presiden bukan tidak mungkin akan berubah menjadi ancaman jika si penyampai informasi (pembisik) mempunyai tendensi negatif, yang pada ujungnya berakibat pada kebijakan kepala negara yang bukan saja merugikan rakyat bahkan menyebabkan bencana di kalangan masyarakat.

Apa sih hubungan antara sahabat dan penyesalan? Sebagaimana telah dikenal luas bahwa sahabat ialah orang lain yang sangat dipercaya untuk membantu, bersama-sama dalam melakukan aktifitas. Keterkaitan antara sahabat dan penyesalan sangat erat dan tidak diragukan lagi. Betapa banyak manusia yang melakukan tindakan bodoh disebabkan sahabatnya. Bunuh diri bukanlah hal yang asing ketika seseorang putus asa karena perilaku sahabatnya.

Berikut petunjuk Allah swt perihal keadaan berbagai jenis persaudaraan di akhirat kelak : “Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf :76)

Kekekalan persahabatan manusia berbanding lurus dengan kualitas persahabatan mereka. Kualitas persahabatan terjaga manakala masing-masing individu subyek persahabatan tersebut memiliki kualitas ketakwaan yang diakui, karena Allah swt tidak memkamung persahabatan manusia dari sisi materialnya melainkan pada motivasi persahabatan itu sendiri.

So, yuk bersahabat atas dasar takwa, bukan jasad dan materi semata. Agar kita bahagia di akhirat sana.